Selasa, 08 Juli 2014

Jejak#7 : Keajaiban dataran tertinggi di Tanah Jawa (Dieng Plateau)

Jumat Mubarak bertepatan dengan tanggal 30 Mei 2014, saya dan delapan teman yang lain menuju daerah yang saya belum pernah melihatnya di belahan Indonesia manapun. Perjalanan dari Jogja sekitar 4 jam menuju ke tempat  itu. Perjalanan malam, sekitar pukul 23.00 WIB, membuat  kami terlelap di mobil EFL yang kami sewa. Di Temanggung kami berhenti sejenak menjemput satu teman, jadilah kami besepuluh.

Pukul 03.00 WIB dini hari, Alhamdulillah kami sampai di daerah tujuan. Ada beberapa rombongan lain yang juga berhenti di pangkal  wisata. Disini sangat dingin sekali. Bak di Korea, asap keluar dari mulut kami yang sedang berbicara. Mengencangkan baju hangat dan memakai sarung tangan, saya keluar dari mobil untuk meregangkan otot dan mencari kamar kecil. Saya melihat rombongan lain menghidupkan api untuk menghangatkan diri. Saya juga melihat plang-plang penginapan di sekitar bertuliskan "Dieng Plateau".

Jejak saya kali ini adalah dataran tinggi Dieng. Belum seterkenal tempat wisata alam lainnya, tetapi dataran tertinggi di tanah Jawa ini menyajikan pesona alam yang sangat menakjubkan. Mulai dari tempat pemburuan matahari di bawah langit biru, pemandangan negri atas awan, dan pesona surga alam yang masih tersembunyi lainnya. Masya Allah.

Menjelang subuh, kami mencari mesjid ke arah tujuan wisata pertama. Sesampainya di mesjid, kami turun menuju kamar mandi. Subhanallah, benar-benar dingin. Menjejakkan kaki di lantaipun sudah membuat kami tak berani menyentuhnya sebentar saja. Walaupun demikian, kami tak urung mengambil wudhu walaupun terasa sangat sangat dingin. Kaki saya sampai terasa kaku. Setelah membaca beberapa informasi di internet, benar, dieng merupakan daerah yang sangat dingin, Suhunya mencapai 10-15 derajat Celcius, bahkan bisa mencapai minus derajat Celcius.

Setelah shalat Subuh kami menuju tempat wisata pertama, Bukit Sikunir. Tak disangka, di kaki bukit, banyak wisatawan yang akan bersiap mendaki bukit. Pemandangan sekitar masih sangat gelap. Cahaya matahari belum muncul sedikitpun saat kami masih di kaki bukit. Demi memburu matahari, sang golden sunrise, kami yang ditemani oleh pemandu dengan gagah berani mulai mendaki Bukit Sikunir. Saya sangat menikmati tiap tapak yang saya daki. Walaupun sebelah kiri jurang, saya tidak merasa ada ketakutan saat itu. Sudah hampir sampai. Matahari sudah memberi aba-aba akan terbit dari sebelah timur. Pancaran cahaya yang sangat indah membuat banyak orang tak sabar melihat bola emas itu keluar dari ufuk timur. Sebelum sampai puncak, kami berhenti sejenak menikmati pesona alam yang indah. Pinus-pinus turut menghiasi pemandangan. Siluet gunung sekitar mulai terlihat. Cahaya-cahaya yang malu-malu berpancar dan awan-awan bak lautan membuat saya sangat merindukan negeri atas awan ini.
Negeri Atas Awan Bukit Sikunir
Pendakian ini akhirnya sampai. Masya Allah, Kami berada di puncak bukit Sikunir yang terletak di desa tertinggi Pulau Jawa. Banyak wisatawan yang sudah bersiap-siap mengabadikan pertunjukan alam yang hanya bisa dilihat di tempat-tempat tertentu. Walaupun banyak orang yang menggunakan SLR dan tongsis, kami tetap percaya diri tersenyum di depan kamera digital dan kamera Handphone kami :D.

Tepat pukul 06.00 WIB, bola emas itu keluar perlahan-lahan. Sangat indah. Sangat indah sekali. Saya terpaku melihatnya. Tak henti-hentinya kami memuji sang Maha Pencipta. MasyaAllah. Alhamdulillah. Segala rasa dingin, kaki kaku dan lelah telah sangat-sangat terobati. Saya yang sebelumnya belum pernah melihat sang surya terbit, benar-benar terpana. Tak terlupakan rasa itu. Walaupun saya tidak pernah melihatnya di tempat lain, saya yakin pemandangan ini tak kalah indahnya.
Golden Sunrise (copy)
Setelah kami termanjakan oleh pemandangan golden sunrise, kami langsung menuruni Bukit Sikunir. Di dataran tinggi Dieng masih banyak tempat yang harus kami jelajahi. Hampir mendekati kaki bukit, kami disambut oleh pemandangan telaga kecebong. Subuh tadi, saya tidak tahu kalau ada telaga ini. Karena langit  masih gelap, keindahan telaga kecebong tidak dapat terlihat. Konon, diberi nama kecebong karena bentuk telaga seperti kecebong. Ada juga yang mengatakan bahwa banyak kecebong di dalamnya. Wallahu'alam. Yang pasti, telega tersebut juga memanjakan mata setiap orang yang melihatnya. Disini, kami juga melihat ladang-ladang milik warga. Ladang tersebut banyak di tumbuhi cabai, kentang dan terlihat beberapa pohon carica. Carica merupakan buah khas Dieng. Pohon dan buahnya seperti pepaya, tetapi lebih kecil dan rasanya juga berbeda. Buah carica dijadikan oleh-oleh khas dieng dalam bentuk manisan.

Telaga Kecebong (copy)
Dataran tinggi dieng mempunyai beberapa kawah vulkanik yang masih aktif.  Salah satunya adalah Kawah Sikidang yang merupakan tujuan menarik kami kedua. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Bukit Sikunir. Mendekati Kawah Sikidang, pemandangan yang awalnya segar berwarna hijau berubah menjadi asap-asap yang keluar dari bumi. Memang sangat berbeda, kawasan kawah sikidang terlihat tandus dengan asap-asapnya. Bau belerang sudah terasa di pinggiran kawasan kawah sikidang. Di pinggiran kawah, terdapat warung-warung makanan dan tempat parkir. Sesuai rencana, sebelum menelurusi kawah kami sarapan terlebih dahulu. Carica juga dijual disini.  Kami memborongnya sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Jogja.
Carica Manisan Khas Dieng
Setelah perut terasa kenyang, kami lanjut memasuki kawasan kawah. Kawasan ini begitu tandus dan berbukit-bukit. Bau belerang semakin menyengat. Alhamdulillah kami semua sudah antisipasi, kami menolak tawaran para penjual masker. Lalu kami pakai masker yang sudah kami bawa. Tak berapa lama memasuki kawasan ini, kami menemukan ibu2 penjual batu belerang. Mereka mempromosikan kalau belerang dapat menghilangkan jerawat dan menghaluskan kulit. 
Ibu Penjual Batu Belerang (copy)
Hanya saya dan kelima teman yang berhasil menaiki bukit-bukit hingga berjumpa dengan sebuah kawah besar. Teman-teman yang lain merasa kelelahan dan tidak tahan dengan bau yang semakin menyengat. kawah besar yang kami lihat berisi campuran air dan lumpur yang terus menggelegak. Menurut informasi, suhu kolam ini mencapai 98 derajat Celcius bahkan lebih. Sungguh Panas. Di tepi kolam dipasang pagar dan peringatan tidak boleh berdiri di pinggir kawah. Konon cerita, ada pengunjung yang berani berdiri di bibir kawah dan alhasil kakinya terperosok. Ketika diangkat, kakinya meleleh dan hanya tinggal tulang. Seram. Harus ikuti petunjuk!

Ada yang menarik, saya salut dengan bapak penjual telur. Dengan memanfaatkan pagar, bapak itu menempel nama jualannya "telur rebus kawah". Ya benar, telur yang dijual itu direbus di kawah yang menggelegak. Dengan alat seperti pancing, bapak penjual menggikat telur di ujung kail pancingan. Sayang, saya tidak mencicipinya karena teman-teman terus mengajak keliling, tidak mau menunggu telur hingga matang. Tapi, secara kesuluruhan pemandangan alam disini sangat eksoktik. Saya dan teman-teman lain sangat menikmatinya. 

Kawah Sikidang (copy)
Perjalanan kami lanjutkan ke tujuan wisata ketiga. Di balik rimbunnya bukit-bukit dan pepohonan terdapat telaga yang sangt cantik, Telaga Warna. Dengan tiket hanya seharga Rp. 2000, kami memasuki pintu gerbang telaga. Sungguh indah. Indah sekali telaga berwana biru kehijauan yang dikelilingi bukit-bukit ini. Saya merasa tenang disini, pemandangan telaga sungguh menakjubkan. Tiap spot sayang untuk ditinggalkan sehingga kami berlama-lama mengabadikan tempat ini tiap spotnya. Airnya tenang, berwarna biru kehijauan. Beberapa bagian terdapat letupan-letupan air mendidih karena telaga ini mengandung sulfur yang cukup tinggi.
Telaga ini dikenal sebagai telaga yang berwarna-warni. Dari bawah, kami tidak bisa melihat degragasi yang menjadi daya tarik telaga ini. Untuk melihatnya, lagi-lagi kami harus mendaki bukit yang lumayan tinggi, bukit Sidengkang. Penjalajahan dieng dari subuh tadi cukup melelahkan kami. Tetapi, untuk mendapatkan pemandangan yang indah, kami tetap semangat mendaki bukit. Beberapa kali kami berhenti untuk mengumpulkan tenaga. Hingga kami mendengar suara-suara pengunjung, kami semakin bersemangat! Alhamdulillah sampai. Dan benar, kami menemukan telaga ini lebih cantik. Dibawah sana kami melihat hamparan telaga yang dikelilingi oleh pepohohan dan bukit-bukit. Degradasi warna ungu di pingirnya, kemudian bergerak kedalam warnanya menjadi hijau, dan di pusat yang cukup lebar warnanya menjadi hijau pucat kebiruan. Sungguh mempesona. Dari bukit ini, kami juga melihat telaga Pengilon, telaga berwarna coklat yang bisa digunakan untuk berkaca. Masya Allah.
Telaga Warna dan Telaga Pangilon dari Bukit Sidengkang
Dari telaga ini kami lanjut ke tujuan wisata keempat, Gardu Pandang Tieng. Selama perjalan menuju kesini, saya sudah terlelap pulas. Terasa Lelah. Terasa berat untuk bangkit. Tetapi, saya tidak mau meninggalkan pemandangan dari tempat-tempat wisata Dataran Dieng ini. Akhirnya saya bangkit. Di tempat ini, kami bisa melihat hamparan Dieng yang luas. Bukit- bukit, rumah-rumah warga, serta ladang-ladang kentang terlihat dari sini. bangunan sederhana ini biasanya digunakan untuk transit para wisatawan Dieng.
Gardu Pandang (copy)


Pemandangan dari Gardu Pandang (copy)
Setelah ini, kami lanjut ke tempat tujuan wisata terakhir. Kami menuju agrowisata perkebunan Teh Tambi. Perkebunan ini tepat berada di lereng Gunung Sindoro sehingga menampilkan pesona alam yang indah. Udara yang sejuk membuat kami ingin berlama-lama disini, tetapi karena perut mulai lapar dan belum Shalat Dzuhur kami segera pulang. Kami menuju Temanggung rumah salah satu teman, Dinia, sebelum lanjut ke Jogja.
Alhamdulillah, hari ini begitu istimewa. Sekitar pukul 19.00 WIB, saya sudah berada di Kos kembali. ^_^


Muara Enim




9 Ramadhan 1345 Hijriah

Rabu, 02 Juli 2014

Kita Menangkan "Games" di Bulan Ramadhan Penuh Berkah Ini


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Umat muslim telah memasuki bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Bulan ini selalu dirindukan. Bulan Ramadhan dimana turunnya Alquran merupakan bulan yang melatih umat muslim menjadi semakin bertaqwa. Jangan sampai kita menyia-nyiakan bulan rahmat penuh ampunan ini sebagai bekal kita di akhirat nanti.

Cuplikan khutbah Rasulullah menyambut Bulan Ramadhan:
" Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA.Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. "

Secara lengkap Khutbah Rasulullah menyambut bulan Ramadhan bisa dilihat di Link ini ya..

Melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan harus sesenang seperti saat kita bermain Mario Bross (games indoor waktu kecil dulu). Bahkan zaman teknologi canggih saat ini, terdapat banyak permainan-permainan berburu koin yang sering dimainkan mulai dari anak kecil hingga dewasa. Ketika bermain games tersebut, kita pasti sangat semangat mengumpulkan poin-poin yang sedang kita mainkan. karena poin-poin yang kita kumpukan itu sampai jumlah tertentu, kita mendapat berbagai bonus contohnya saja bonus nyawa :D. Ada lagi, ketika dipermainan, kita dapat menemukan ikon spesial seperti senjata, kekuatan, de el el yang segera kita kumpulkan.

Waktu kecil, saya suka sekali bermain Mario Bross. Saat itu sekitar tahun '98-an zaman-zamannya Sega dan PS. Karena saya perempuan, saya tidak dibelikan permainan itu. Walupun demikian, saya sering ikut bermain bareng dengan sepupu saya, bang Arif, sampai-sampai tak ingat waktu. Sewaktu SMA, saat itu sudah memiliki komputer, saya tidak menemukan Mario Bross di komputer saya. Setelah mengecek Game House  di komputer, saya menemukan permainan Varmintz. Pasti sudah pernah memainkannya kan? Coba deh lihat di komputer atau laptop? Sudah taukan? Iya benar, permainan yang sudah cukup lama ini menceritakan tentang empat musang yang mengoleksi telur emas dan memelewati beberapa rintangan seperti menghindari mobil, orang, hewan, truk dan tak ketinggalan kereta api. Permainan ini membuat pemainnya terasa sangat gemas dan sayang kalau ada telur emas yang tertinggal. Halangan dan rintanganpun dengan gesit dihindari. Saat ini, tentu banyak permainan berburu koin (poin) yang ada di Laptop, Handphone, Tablet, Ipad, Iphone, de el el yang mudah di akses. 

Begitu juga pada saat Ramadhan, amalan-amalan yang kita kerjakan ibarat poin-poin yang harus kita kumpulkan. Mulai dari ibadah wajib sampai ibadah sunnah. kita harus tahu arena games yang kita lewati. Mulai dari adzan magrib sampai adzan magrib selanjutnya, kita harus tau apa saja amalan-amalan yang bisa kita raih. Seperti games di atas, kita harus semangat kalau ingin mengumpulkan banyak koin. kita harus gesit melawan hawa nafsu kita yang berat untuk melakukan ibadah. Kita juga harus menikmati ibadah yang kita lakukan hingga menghasilkan keikhlasan dan ridho Allah.

Sebagai contoh  "poin-poin yang bisa kumpulkan" (amalkan): 
(Bagi laki-laki dianjurkan selalu Shalat berjama'ah di mesjid) 
  • Salat Magrib berjama'ah dilanjutkan Shalat sunnah Rawatib Ba'diyah, kalau sudah selesai buka dan beres-beres langsung berjalan menuju mesjid sebelum adzan Isya. 
  • Sesampai di Mesjid langsung melaksanakan salat sunnah mesjid.
  • Manfaatkan waktu sebelum adzan isya dengan tilawah Quran.
  • Setelah Adzan Isya, jangan lupa doa setelah mendengar Adzan (kalau belum hafal, segera dihafal ya ^_^)
  • Lanjutkan dengan Shalat sunnah Rawatib Qabliyah, Isya Berjama'ah, dan sunnah Rawatib Ba'diyah.
  • Dengar Tausyiah/ Kultum dengan Khusyuk (Di mesjid dekat rumah saya, selalu ada Tausyiah sebelum salat tarawih)
  • Shalat Tarawih dan witir.
  • Tilawah quran.
  • Sebelum tidur, wudhu dan membaca ayat kursi dan 3 surah terakhir Alquran.
  • Bangun Sepertiga malam, qiyamul lail dilanjutkan dengan tilawah, menambah hafalan, atau Muraja'ah.
  • Membantu/ mempersiapkan Sahur.
  • Sahur dan banyak berdoa di waktu sahur.
  • Memasuki waktu shubuh, menjalankan Shalat sunnah Rawatib Qabliyah dan Shalat Subuh berjama'ah (sangat dianjurkan bagi laki-laki untuk berjama'ah di mesjid).
  • Setelah Shalat Subuh, tilawah sebanyak-banyak, bisa juga menghafal atau muraja'ah, kemudian dilanjutkan dengan membaca wirid (Alma'tsurat).
  • Riyadhoh (olahraga), insyaAllah ini juga bernilai ibadah loh :). Tetapi bukan asmara subuh yang berkedok olahraga, nah lho..
  • Memasuki waktu Dhuha, menjalankan shalat dhuha dengan memaksimalkan jumlah raka'at jika memiliki waktu yang luang di pagi hari. 
  • Sebelum shalat sesaat setelah wudhu, sempatkan shalat sunnah Wudhu. Minimal sekali dalam sehari. Atau kapan saja setelah berwudhu bisa melaksanakan shalat sunnah wudhu. Ini merupakan ibadah yang paling mudah dan ringan karena terdiri dari dua rakaat saja, tetapi ibadah yang mudah ini sering kali kita abaikan. Padahal, Bilal bin Robbah sudah terdengar terompah di syurga karena rutin mengerjakan sholat sunnah wudhu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada sahabat bilal: "ceritakanlah kepadaku amal apa yang amat engkau harapkan dalam islam, sebab aku mendengar suara kedua sandalmu di surga? Sahabat Bilal menjawab: tidak ada amal ibadah yang paling aku harapkan selain setiap aku berwudhu baik siang atau malam aku selalu shalat setelahnya sebanyak yang aku suka’’. (HR. Bukhari).
  • Memasuki waktu dzuhur, melaksanakan Shalat sunnah Rawatib Qobliyah, mengusahakan Dzuhur berjama'ah, dan sunnah Rawatib Ba'diyah.
  • Tilawah Qur'an.
  • Memasuki waktu Ashar, melaksanakan Shalat sunnah Rawatib Qobliyah, kemudian mengusahakan Ashar berjama'ah.
  • Tilawah Qur'an.
  • Dzikir/ wirid (Alma'tsurat) petang hari.
  • Memberi ta'jil.
  • Alhamdulillah buka Puasa :D.
Selain amalan-amalan di atas kita harus menggunakan waktu kita sebaik mungkin. Misalnya selalu mengisinya dengan dzikir, selalu beristighfar, membaca buku yang bermanfaat, menShare nasihat yang bermanfaat atau tausyiah di media sosial ataupun SMS, mengisi kegiatan bermanfaat, de el el.

Di Ramadhan ini kita juga harus punya target. Misalanya saja memperbanyak tilawah dengan mengkhatamkan minimal sekali selama ramadhan, menambah hafalan beberapa surat atau bahkan sejuz atau lebih (MasyaAllah), de el el.  Ramadhan adalah bulan dimana alquran pertama kali turun, oleh karena itu mari kita memperbanyak tilawah. Setiap satu huruf yang kita baca dihitung satu kebaikan oleh Allah.
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan karenanya, dan satu kebaikan itu dengan sepuluh perbandingannya, aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf, dan mim itu satu huruf. (HR At-Tirmidzi)
Alhamdulillah, apalagi dibaca pada saat Ramadhan. InsyaAllah berlipat-lipat pahala yang kita peroleh. Alhamdulillah, MasyaAllah.


Ayo sahabat, kita semangattt..
Kita menangkan "Games" di Bulan Ramadhan Penuh Berkah... :)
Semangat Berburu Pahala di Bulan Ramadhan Penuh Berkah.. :)
Kalau kita aja semangat main games yang belum tentu beroleh pahala, manalagi Ibadah-ibadah di bulan ramadhan yang beroleh pahala berlipat ganda... :D

InsyaAllah selepas Ramadhan ini, kita menjadi insan yang semakin bertaqwa pada Rabbnya, Allah SWT.. Aamiin..


Muara enim



5 Ramadhan 1435 Hijriah

Selasa, 01 Juli 2014

Cahaya itu Mengubah Rasa: Kunang-kunang Malam


Cahaya itu sangat indah di tengah gelapnya malam. Cahaya indah itu bergerak-gerak kesana kemari. Cahaya indah itu berkelap-kelip menyampaikan pesan. Cahaya itu bukan berasal dari benda mati seperti halnya lampu, tetapi cahaya kecil itu berasal dari mahluk hidup ciptaan Allah Swt.

Kunang-kunang diciptakan Allah dengan sempurna dan unik. Allah melengkapi tubuhnya dengan zat kimia khusus, yaitu lusiferin, dan enzim yang disebut lusiferase. Zat-zat tersebut bekerja dan bereaksi dengan oksigen kemudin menghasilkan energi.  MasyaAllah. Kunang-kunang  merupakan penghasil energi cahaya paling efisien yang berasal dari alam.  Hampir 100% energi yang dimilikinya akan disalurkan menjadi cahaya. Hal ini sangat signifikan apabila dibandingkan dengan bohlam yang hanya sekitar 10 % energinya sebagai cahaya dan selebihnya menjadi panas. Karena kunang-kunang tidak menghasilkan panas, maka cahaya yang dihasilkannya sering disebut sebagai cahaya dingin (Luminescence).

Selain terlihat indah, Allah melengkapi cahaya pada kunang-kunang karena memiliki banyak manfaat untuk kunang-kunang itu sendiri. Pada saat larva, cahaya ini dapat melindungi larva dari gangguan predator. Ketika kunang-kunang dewasa, cahaya ini berfungsi sebagai alat komunikasi, salah satunya sebagai sinyal antara jantan dan betina untuk menarik perhatian.

Kunang-kunang tinggal pada tempat-tempat yang lembab, seperti rawa-rawa dan daerah yang dihuni pepohonan. Kita sangat sulit melihatnya ketika berada pada daerah yang didominasi oleh cahaya lampu. Oleh karena itu, saya tidak pernah melihatnya di tempat tinggal saya. Pertama kali saya melihatnya yaitu pada saat saya datang ke kampung ayah saya di Pakpak Barat. Pakpak Barat merupakan daerah yang berada di pegunungan dan tentu saja masih banyak pepohonan yang tumbuh disekelilingnya. Tapi, kunang-kunang yang muncul hanya dua atau tiga saja. Saya tidak melihatnya bertebangan sangat banyak. Walaupun demikian, MasyaAllah, saya sangat takjub sekali melihatnya.

Pertemuan saya selanjutnya yaitu pada saat saya PBL di Desa Kebun Kelapa, Secanggang, Langkat. Selain banyak persawahan dan pepohonan, daerah tersebut masih terdapat sedikit sekali penerangan sehingga saya berkesempatan melihatnya. Dari kejauhan, saya melihatnya terbang di sekitar pohon. Saya terkejut karena saat itu kami baru tinggal di tempat tersebut :D. Setelah dilihat-lihat lagi, dan setelah diyakini teman-teman, benar itu adalah kunga-kunang yang lagi terbang.

Alhamdulillah, satu tahun belakangan, saya hijrah ke Jogja. Di Jogja, senang sekali melihatnya sesering ini. Setiap melewati jalan menuju kos dari merapi, banyak kunang-kunang bertebangan di atas sawah. Mata saya yang mengantuk menjadi tersadar melihatnya. Saya sangat menikmati pemandangan itu di tengah dinginnya dataran tinggi Merapi. Saya juga kaget ketika saya melihat terdapat kunang-kunang  di atas sawah dekat kos saya. Ternyata disini begitu mudah melihatnya. Walau dari kejauhan, hanya melihat cahayanya saja, itu sudah membuat saya takjub dan tersenyum. Betapa indahnya! :)

Namun, ada satu momen yang tak terlupakan...
Saat itu, saya datang ke rumah Mbak Anjas untuk sharing tugas Kuliah. Mbak Anjas salah satu teman di kampus yang paling enak untuk sharing tugas. Walaupun sedang hamil dan sudah memiliki tiga anak, saya selalu kagum dengan semangat kuliahnya Mbak Anjas.. :). Saat itu saya lagi Shaum. Teman-teman satu kos ngajak buka bareng. TetapiMbak Anjas sudah masak spesial buat saya (hehe, KeGeeRan). Saat itu Abad (anak ketiga Mbak Anjas) juga ingin saya lebih lama disana (hehe, Karena sesuatu). Jadi, saya memilih makan malam bareng di rumah Mbak Anjas. :D

Setelah salat magrib dan makan malam, saya izin pulang. Mbak Anjas dan Sakha, Ahsan, serta  Abad (anak-anak Mbak Anjas) mengantar saya ke depan Rumah. MasyaAllah. Karena tepat di depan rumah Mbak Anjas terdapat sawah, banyak sekali kunang-kunang berekalap-kelip yang bertebangan. Saya sampai takjub. Mbak Anjas dan anak-anaknya tertawa melihat sikap saya. Sakha langsung berlari mendekati kunang-kunang, lalu menangkapnya. Dengan semangat, Sakha memberikan kunang-kunang tersebut kepada saya. MasyaAllah, baru kali ini saya melihat kunang-kunang sejelas ini, tubuhnya yang kecil, tetapi mengeluarkan cahaya yang sangat indah. 

Cahayanya membuat saya takjub dan tersenyum. Terima kasih Sakha :)
Alhamdulillah.. Maha Sempurna Allah, Maha Pencipta semua makhlukNya....

Muara Enim



4 Ramadhan 1435 Hijriah







Minggu, 29 Juni 2014

Dipilih Menjadi No 1 (Perlebahan)


Trilogi kisah 3 lebah, akhirnya hadir juga untuk melengkapi... :D

Seperti yang diketahui sebelumnya, latar belakang (kayak skripsi aje kali :D) kenapa sih kita bertiga buat kisah ini, karena kak dina switi alias Ny. Zulqarnain itu loh yang penasaran kenapa persahabatan alias ukhuwah kita masih langgeng sampai sekarang (insyaAllah sampai ke Syurga), aamiin...

Eitss, tapi tunggu dulu masih ingetkan kita bertiga siapa aja. Ya benar, saya dipilih menjadi yang pertama dalam persaudaraan lebah ini. Terus lebah kedua si gadis ombo batu, Rahmi Fitri Laoli, dan lebah ketiga si gadis kelahiran Wonogiri, Sri Lestari Zhaw. Masih ingat jugakan kenapa saya menjadi lebah pertama, rahmi menjadi lebah kedua, dan si bungsu zhaw menjadi lebah ketiga? Siip deh kalau gitu :D.

Cerita ini dimulai dari lebah kedua, kemudian lebah ketiga. Dan selanjutnya saya. Baiklah saya akan menceritakan pertemuan pertama kami.

Pertama kali bertemu dengan lebah kedua..
Ingatan pertama kali bertemu dengan rahmi ketika semester pertama, saya melihatnya setelah selesai mata kuliah (apa gitu saya uda lupa). kala itu rahmi berteman dekat dengan sri erlina. Kesan pertama saya saat itu rahmi terlihat tidak banyak bicara. Saat saya ingin berbicara padanya dia hanya fokus dengan Sri Erlina. Jadinya saya urung untuk mengajaknya ngobrol. Masih inget gak mi’.. :D

Kemudian seperti yang rahmi ceritakan sebelumnya, kami satu kelompok tugas mata kuliah ke rumah sakit adam malik. Itu pertama kali interaksi kami yang dekat. Pada saat itu, saya masih merasa asing dengan Rahmi. mungkin, karena saya dan rahmi orangnya agak pendiam gitu sih.. :D
Itu sekilas pertemuan pertama saya dengan kedua lebah. Kami memutuskan untuk memilih minat yang sama, yaitu Kesehatan Lingkungan. Itu cikal bakal kenapa kami bisa menjadi dekat seperti ini. Dengan kekuatan cahaya iman, kami menggabungkannya menjadi penerang jalan-jalan kami.
 ***

Sepertinya, ingatan pertama saya dengan lebah ketiga berbeda dengan lebah ketiga sendiri :D. Saya tidak ingat sama sekali pertemuan yang diceritakan lebah ketiga, hehe :D ketika membaca kisahnya saya guling2 terbahak2 ditempat tidur.. Ups :D

Pertama sekali yang saya ingat pertemuan dengan lebah ketiga ketika...
Saat itu saya mencari tempat duduk untuk mengikuti satu mata kuliah masa-masa pertama kuliah. Lebah ketiga duduk bersama temen-temen yang dekat dengannya terlebih dahulu. Yang paling saya ingat dulu ada Meli dan Via. Sayapun meminta izin duduk di samping mereka. Saya berkenalan dengan mereka. Beberapa hari selanjutnya kami semua menjadi akrab. Seperti yang lebah kedua ceritakan, kami membuat geng Khadijah.


Oh iya sedikit cerita tentang geng khadijah. Geng ini terdiri dari delapan orang yaitu, saya, sri, meli, via, ulia, linda, nisa, dan dhani. Tujuan dibentuknya geng ini sebernarnya untuk mendirikan sebuah usaha, makanya kami beri nama khadijah. Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu’anha adalah Istri Rasulullah yang merupakan wanita terhormat sekaligus wanita pengusaha sukses pada zamannya. Tapi, geng ini belum sesukses ibunda Khadijah yang usahanya berkembang pesat. Usaha kami mandek ditengah jalan, mungkin karena kesibukan kuliah. Alhamdulillah, geng ini tetap eksis. Kami masih sering kumpul bareng, buka puasa bareng, mabit, dan yang paling seru, di akhir semester kami main bola kasti. Saya masih ingat, kami membeli pukulan bola kasti. Di pukulan itu tertulis “khadijah”. Tapi sayang, pukulan itu sekarang sudah tidak terlihat lagi jejaknya. :’(

Ditulisan rahmi sebelumnya tentang geng khadijah, saya selaku ketua geng (Ceilee) memohon maaf kalau perlakuan kami kelihatan gimana gitu ya, terutama saya.. maklum masih labil saat itu... :D

Baik kita lanjut tentang lebah ketiga..
Saya lebih dekat dengan lebih ketiga dari teman-teman di geng khadijah lainnya. Saya merasa lebah ketiga orangnya cerdas dan humoris dan ada keinginan menjadi lebih baik (jangan terlalu GR ya :D). Mungkin itu yang membuat ketertarikan saya untuk lebih dekat dengan lebah ketiga. Lebah ketiga juga banyak menemani saya kemana-mana. Hal itu sudah terlihat dari persahabatan kami di awal-awal. Saya masih ingat sekali lebah ketiga menemani saya mencari lembaga privat “Smart Club” (masih ingat tak? :D). Lembaga ini adalah lembaga less privat yang mencari guru-guru privat dari kalangan mahasiswa. Saya ingin mencari pengalaman dan berharap bisa mandiri sehingga ketika ada kesempatan ini saya langsung mengikutinya. Nah, lebah ketiga adalah orang yang pada saat itu mau menemani saya mencari kantor lembaga itu. Kami sebagai penghuni baru kota Medan sangat berani mencari alamat dengan modal alamat yang tertera di brosur. Akhirnya, setelah berjalan kesana kemari, kami menemukannya. Alhamdulillah :D.

Seperti yang lebah ketiga bilang, kami sudah sekufu sejak pertama. Satu kelompok lingkaran, satu kelas, satu peminatan, pake jilbab syar’i barengan, de el el. Kemudian, kami ikut lembaga dakwah fakultas dan kampus bareng, ikut kegiatan wirausaha kampus bareng. Sampai akhirnya saya merasa kalau bakalan di JOGJA bareng juga.
 ***

Berjalannya waktu, bergulir pula waktu kuliah kami. Semester demi semester telah berlalu. Cahaya-cahaya mushala FKMpun memancar ke hati-hati mahasiswa yang akan mendapat sibghatallah (celupan ilahi). Alhamdulillah saya dan dua lebah lain terkena pancaran itu. Tetapi rahmi terlebih dahulu yang berusaha memasuki islam secara keseluruhan. Pada saat tingkat II kuliah, ada penerimaan menjadi kakak mentoring, sementara saya belum merasa pantas untuk menjadi kakak mentoring. Namun, selanjutnya saya tahu bahwa berbagi tidak mesti mempunyai banyak ilmu, terpenting adalah sedikit ilmu yang bisa diberi dan terus menerus untuk mau berubah dalam kebaikan, karena dengan berbagi maka ilmu itu akan sendirinya bertambah untuk sipemberi.

Menjelang semester 6 kami bertiga berkunjung ke rumah saya di Batubara. Lebah ketiga ingin melihat pantai. Pastinya, jika dibandingkan dengan pantai kampung lebah kedua, pasti jauh banget, pantai di Nias jauh lebih indah. Tapi, terlalu jauh bagi kita untuk kesana. Akhirnya sebelum masuk kuliah semester 6 kita refreshing ke pantai dekat rumah saya, kemudian dilanjutkan ke kompleks perumahan Tanjung Gading (ada danau buatan yang bagus banget). Dua sepupu saya, bang arif sebagai supir dan kak yuni ikut menemani.

***

Masuk semester 6, kamipun memasuki masa-masa peminatan, kesehatan lingkungan. Saat ini kami semakin dekat. Dari geng khadijah lain yang masuk kesling hanya meli. Keakraban geng khadijah tidak seintens dulu. Saya dan lebah ketiga seakan-akan menjauh. Insyaallah tidak menjauh, mudah-mudahan itu hanya karena beda peminatan dan kegiatan lainnya yang kami berbeda dengan anak-anak geng khadijah. Tapi pada saat itu, meli tetap kompak banget dengan linda, meli, dan ulia. Sementara saya dan lebah ketiga semakin dekat dengan lebah kedua.

Peminatan yang sama mendekatkan kami bertiga. Disamping itu kami juga mengikuti LDF dan LDK bareng. Tapi, diantara kita bertiga, mereka berdua adalah seorang aktivis yang keren. Seperti yang sudah lebah ketiga kisahkan, Sejak 2011 mereka menjadi ketua dan sekretaris umum UKMI FKM USU. Pada awalnya saya diamanahi sebagai ketua bidang Humas. Tetapi, lagi-lagi, mereka sangat keren jauh dibandingkan dengan saya. Maaf, kala itu, jikalau saya kurang amanah ya ukhtifillah :(.

Memasuki semester 7, saat-saat dimana kami ke lapangan. Pertama Praktek Belajar Lapangan (PBL) dan kedua Latihan Kerja Praktek (LKP). Alhamdulillah, kami ditempatkan 1 kecamatan, kecamatan secanggang. Tetapi, saya dan kedua lebah lainnya ditempatkan di desa yang berbeda. Saya ditempatkan di Desa Kebun Kelapa sementara kedua lebah lain ditempatkan di desa lain yang sama. Semasa PBL, walau jarang bersama karena berada dimasing-masing pos, kami sesekali pulang dan pergi bareng secanggang-medan karena tiap sabtu minggu kami balik ke Medan.

Pada saat LKP, kami ditempatkan di tempat yang berbeda-beda. Saya di PDAM Tirtanadi, Rahmi di Pengolahann Limbah Cair Tirtanadi, dan Sri yang paling jauh di Kantor Kesehatan Pelabuhan Belawan. Saat-saat ini kami masih sering bareng karena tidak terlalu jauh dari kos-kosan dan walaupun sri harus sejam lebih di angkot perjalan ke Belawan, dia tetap pulang balik kos dalam satu hari. Hebat lebah ketiga :D

Memasuki semester delapan, saat dimana masa tersebut adalah masa-masa emas keskripsian kami bertiga. Galau judul. Galau teman-teman uda ada yang seminar proposal. Dan galau-galau yang lain mungkin menghinggapi kami bertiga. Berbarengan dengan berlalunya waktu, kepengurusan UKM FKM yang dipimpin oleh lebah ketiga direshufle. Pada saat itu, dengan sekretaris tetap, saya diamanahi menjadi Bendahara Umum. Inilah yang menjadikan kami semakin terlihat menjadi 3 gadis manis yang kompak :D. Kami dijuluki dengan “TrioUm”. Kalau seingat saya, pertama sekali julukan ini diberi oleh Oos alias Sovia aja alias Sovia (iya, namanya hanya terdiri dari lima huruf yang membentuk satu kata yaitu Sovia :D).

Sekitar pertengahan tahun 2012, Kami memutuskan untuk mengontrak rumah bareng agar semangat bersama-sama untuk mengerjakan skripsi dan lainnya selalu ada. Awalnya yang yang menempati rumah kontrak saya dan lebah kedua beserta sepupunya teman yang sedang bimbingan belajar di Medan. Kemudian setelah kami semester 9 (duh malu ‘_’, tapi semoga masa-masa yang lebih tersebut di kampus, tidak sia-sia, melainkan menjadikan kami semakin matang,, aamiin :) ), lebah ketiga dan beberapa temen di geng khadijah (Meli, Linda, dan Ulia) menghuni kontrakan kami. Tidak lupa juga, Kak Gema dan kak Inun juga menjadi penghuni, serta Sovia yang sempat diceritakan di atas juga merupakan satu anggota rumah kontrakan kami. Wah rame banget ya.

Duh, rasanya sedih dan senang kalau mengenang kisah-kisah di rumah kontrakan kami. Lagi-lagi, mungkin karena saya salah satu penghuni pertama di Rumah Kontrakan, saya diangkat menjadi ketua. Di rumah tersebut kami membuat jadwal piket, piket masak, mencuci piring dan membersihkan rumah. Dan ada juga tausyiah minggu pagi yang beberapa kali kami laksanakan. Dan tak lupa pula, ada les bahasa Arab di rumah kontrakan kami :D. Ustadzah lulusan Mesir, Ustadzah fadhilah yang alhamdulillah baru-baru saja menikah, menjadi pengajar kami. Beliau sangat baik sekali datang ke rumah kontrakan kami untuk mengajarkan bahasa Arab, bahasa Quran :’). Saya sangat berterimakasih sudah berbaik hati tiap selasa dan jumat malam mengajarkan kami bahasa Arab. Dan juga, Ustadzah Fadhilah telah mengajarkan saya Tahsin Qur’an. Semoga Ilmu yang diberikan ustadzah tetap mengalir dan menjadi pahala yang tiada putusnya. Tak ketinggalan, Kak dina switi (masih ingatkan siapa J) juga ikut les bahasa Arab di Rumah kami.

Kalau teringat masak-memasak, kala itu kami makannya dijatah, terkadang orang yang makan terakhir hanya tersisa sedikit saja. Hiks.. tapi walaupun demikian, kita membuktikan bahwa kita bisa menikmati hidup dengan sederhana dan saling berbagi (walau.. seperti itu, terkadang yang terakhir hanya tersisa sedikit lauk dan kehabisan sayur :D).

Dan yang selalu diingat, kalau makanan sudah habis untuk sarapan, kita sering sekali membeli Mie balap. Baiklah saya akan memperkenalkan Mie Balap (Sarapan khas mahasiswa Medan, barangkali di luar Medan banyak yang tidak tahu :D). Mie balap itu adalah mie yang ditumis dan dimasak dengan dibolak-balik oleh sang koki secara cepat. Mie balap ada dua jenis yaitu mie balap dari bihun atau kwitiau. Jangan kira, makanan ini dijual di warung makan bahkan restoran, makanan ini di jual kaki lima pinggir jalan. Tapi rasanya itu enak banget, ngangeni. kalau ke Medan, Mie Balap insyaAllah saya beli :D.

Lanjut tentang rumah kontrakan kami, banyak kegiatan yang terjadi di dalamnya. Banyak usaha-usaha yang kita jalani. Seperti yang sudah lebah kedua ceritakan, rumah kontrakan kami diberi dengan nama AnNahl (lebah) karena kak Inun menjual Madu. Madu, seperti yang kita ketahui, dihasilkan oleh lebah. AnNahl juga memiliki makna yang bagus, oleh karena itu kami pilih AnNahl menjadi nama rumah kontrakan Kami :D.

Di Annahl, saya juga menjalani usaha, usaha coklat. Usaha coklat saya beri nama L’Chocolate. Fotografi dan toko onlinenya dipegang oleh lebah kedua dan tim kreatif ada lebah ketiga dan Oi. Sebenarnya, banyak yang bisa saya ceritakan tentang perjalanan usaha coklat ini. Semua penghuni rumah yang mempunyai waktu luang ikut terlibat membuat coklat. Waktu itu, Linda sangat telaten banget. Banyak coklat-coklat yang dihasilkannya setiap hari :D. Teman-teman yang mencetak coklat mendapatkan fee per kilogram coklat. Sampai-sampai, pada saat itu, Oos menyebut saya Nyonya. Kemudian teman-teman pada ikut-ikutan memanggil saya Nyonya. Hehe, ngerasa gimana gitu ya. Tapi, saat ini usaha coklat berhenti. Mudah-mudahan kedepannya bisa tetap lanjut. Aamiin.

AnNahl atau yang artinya lebah akan berhubungan dengan kenapa kami menjadi 3 lebah. Kami memang terlihat kompak, mulai dari menjadi Trio Um, tinggal di satu kontrakan yang sama, dan sampai-sampai bulan kelahiran kamipun sama yaitu bulan april. Bulan April tahun 2013pun tiba. Saat itu, ada dua kakak yang baik hati yang memberi kami dua kue ulang tahun. Kak Nina dan kak Dina memberi kami kue ulang tahun di hari yang berbeda. Benar, 1 kue ulang tahun untuk kami bertiga, merangkap gitu :D. Alhamdulillah, bagaimanapun kami sangat-sangat bersyukur mempunyai kakak yang sangat baik memberikan rasa sayang kepada kami di setiap saat dan juga saat kami ulang tahun.


Nah, di kue ulang tahun dari kak Dina, tertuliskan 3 Lebah, Winni, Rahmi, Sri. Inilah awalnya kenapa kami dipanggil 3 lebah. kalau urutannya, saya dipilih menjadi Lebah pertama, Rahmi Lebah kedua, dan Sri lebah ketiga karena, dari kami bertiga, saya lahir duluan diikuti Rahmi dan Sri. Kalau kata sri ada beberapa alasan lain. Masih ingatkan, mungkin bisa dibaca cerita lebah ketiga lagi ya :D.

Alhamdulillah, walau kami bertiga berada di tempat-tempat yang berbeda sejak bulan Juni 2013, sampai sekarang kami masih berkomunikasi dengan baik. Mungkin ini yang membuat kak dina kala itu bertanya kenapa kami masih kompak. Jawabannya dari winni adalah selain banyak kesamaan yang telah kami miliki, karena sejak awal kami sudah diberi pancaran iman yang memberikan kami cahaya. Walaupun iman itu turun naik, mudah-mudahn iya takkan akan redup. Walau kadang kala diantara kami ada yang memiliki iman yang turun, yang lain tetap memberikan cahayanya.

Harapan, terutama mengingatkan lebah pertama, kita harus tetap saling mendoakan. Walau diantara kita tidak ada yang tahu ada yang sedang berdoa untuk yang lain, tapi tetap lakukanlah. Karena itulah penghubung cahaya-cahaya kita.

Salam Rindu Ukhtifillah


1 Ramadhan 1435 H

Rabu, 12 Februari 2014

buat lagu cinta

Liburan semester 1 ini masih berkesempatan pulang kampung dan pasti ketemu dengan saudara kandung, sepupu, keponakan, nenek, kakek, wawak, oom, tante...
Dan cucu dan cicit kakek nenek banyak banget, kalau uda kumpul pasti rame...
Salah satu sepepu dari anak oom, namanya ariqoh, minta buatkan PR. Okelah kalau pelajaran MM, BI, atau lainnya bisa diajarin, nah ini dia minta buatin PR malah...
Dan yang lebih mengejutkan lagi gurunya suruh buat tugas menulis lirik lagu dgn tema "c.i.n.t.a"...-o-
Yah, melihat wajahnya penuh harapan, sayapun enggan menolak permintaannya... -_-
Berfikir...berfikir... apa yang harus ditulis.... '_'
Gurunya juga memberi arahan lirik lagu yg dibuat harus abab, aabb, aaaa...
Akhirnya tangan ini mulai bergerak, dengan coret sana coret sini, tertulislah lirik lagu seperti ini...

"Ku disini tetap setia menjaga cinta
Biarlah orang berkata apa ku tetap setia
Hanya Tuhan yang tahu
Apa yang sedang kurindu

Cinta tak mungkin dibagi
Sebelum adanya ikatan suci
Meski ku merindui
Biar Tuhan meridhoi

Disetiap sujudku
Ku selalu berdoa
Hadirmu kutunggu
Seseorang yang kurindu

Walau rindu tak terbendun lagi
Kutetap sabar menjaga cinta suci
Ku yakin kan segera datang menemui
Hatiku yang merindui"

Ahhaii...
Di atas itu apa ya...
Curcol atau gimana ya... :D
Walah ndak tau benar atau kagak...
Yang penting bisa bantu sepupu buat tugas^_^

♡simpang kebun kopi, 9 Januari 2014

Jumat, 06 September 2013

alhamdulillah, akhirnya bisa masuk ke 'my other world'

alhamdulillah...
masuk lagi ke blog saya...
setelah sekian lama tidak masuk2 gegara lupa email n password... eh tadi dicoba, bisa... hore...hore... berhasil...


oia, alhamdulillah... sekarang uda status baru nie... mahasiswaesdua nya UGM... :)

insyaAllah, sering2 nulis disini dech.. tentang pengalaman esdua dan seterusnya... pasti sseru dan semoga bermanfaat...:)

Selasa, 26 Maret 2013

masuk harian Sumutpos (hanya koran daerah) rasanya ... itu sesuatu :)


http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=60580


Daur Ulang Sampah

Posted on  by ipoel

Winni Re Tumanggor

Ramadan harus diisi dengan hal-hal atau kegiatan yang bermanfaat. Karena pada prinsifnya semua kegiatan yang dilakukan selama Ramadan
dihitung ibadah oleh Allah.
Itu lah yang melatarbelakangi Winni RE Tumanggor Peserta Miss Fire Rabbani 2010 itu selalu menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Seperti, membuat kerajinan tangan dari sampah-sampah daur ulang.
Misalnya, dari sebuah kardus bekas bisa dibentuk menjadi sebuah celengan. Dan dari bahan-bahan lainnya, menjadi hiasan-hiasan yang memiliki nilai komersil.
“Sejak saya tinggal di Medan mulai dua tahun lalu, saya tertarik untuk memanfaatkan barang-barang bekas atau yang orang kenal dengan istilah daur ulang. Saya selalu buat kerajinan tangan itu, biasanya waktu tidak ada kegiatan lain seperti kuliah dan sebagainya. Jadi praktis, saya hanya membuat kerajinan tangan itu pada hari Minggu saja,” kata gadis berusia 20 tahun kelahiran Indrapura, 15 April 1990 tersebut.
Memang wajar, jika dara yang akrab disapa Winni ini hanya bisa mengerjakan daur ulang barang-barang bekas di hari Minggu saja. Pasalnya, setiap harinya Winni selalu menghabiskan waktunya di kampus nya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) dari pukul 13.30 WIB sampai pukul 15.30 WIB.
Mengenai kemampannya mendaur ulang barang bekas itu, anak pertama dari empat bersaudara pasangan Darwinsyah Tumanggor dan Suriani Sumadi ini, memiliki obesesi untuk menjadi seorang enterpreuner alias wiraswastawan alias pengusaha.
“Sekarang lagi concern mengikuti program Student  Enterpreunership Center yang diselenggarakan oleh Biro Rektor USU. InsyaAllah bisa menang lomba yang rencananya akan digelar pada tanggal 18 September nanti. Kalau menang, kan bisa buat nambah modal. Jadi bisa buka usaha kecil-kecilan,” ungkap alumni SMUN I Indrapura tersebut.
Tidak sampai disitu saja, dengan padatnya kegiatan yang dijalaninya itu, Winni tidak langsung kembali ke kosnya, karena masih memiliki kegiatan lainnya seperti, kegiatan organisasi serta aktivitas lainnya.
“Kuliah dari Senin hingga Kamis. Di hari itu juga selesai jam kuliah, selalu mengikuti kegiatan lainnya di organisasi seperti, rapat, buka puasa bersama dan sebagainya. Hari Jumat sampai Sabtu juga, kadang ada kegiatan lainnya. Jadi, baru pulang ke kos biasanya malam sebelum tarawih,” terang gadis berdarah Jawa-Batak itu.
Untuk persoalan menu, sudah menjadi kebiasaan anak kos adalah tidak terlalu ingin yang ribet. Begitu pula yang dilakukan oleh gadis yang tercatat sebagai anggota organisasi Panitia Hari Besar Islam (PHBI) FKM USU ini.
Enaknya lagi, ibu kosnya telah menyediakan menu berbuka dan sahur untuk setiap harinya.
“Alhamdulillah, di kos sudah disediakan. Jadi nggak repot-repot lagi,” tuturnya.
Seperti orang-orang pada umumnya, Winni juga memiliki target yang ingin diraihnya selama Ramadan tahun ini. Target itu adalah untuk menamatkan membaca Alquran alias khatam.
“Targetnya sih pengen bisa khatam. Memang selama ini, setelah salat wajib atau sunat, saya selalu menyempatkan diri untuk tadarus. Minimal setia tadarus, bisa baca dua lembar. Jadi kalau salat lima waktu sehari semalam, Insya Allah bisa satu juz juga,” tutupnya. (ari)

Senin, 25 Maret 2013

Husnudzon


Cerita yang didengar ketika ceramah sebelum salat tarawih di Muara Enim…
Seorang pemuda bernama Baharuddin, seorang preman  yang hidupnya jauh dari agama, untuk solatpun dia tidak tahu. Dia anak semata wayang dari ibu yang suaminya sudah meninggal. Karena sangat gadul2an Ibunya  sudah tidak sanggup mengajarinya.
Pada suatu hari ia tertarik melihat seorang ustadzah yang masih gadis pulang dari mengisi pengajian ibu-ibu di kampung pemuda itu. Ketika ustadzah itu lewat di depannya, ia pun menegurnya.
“assalamualaikum”, perlinya kepada ustadzah itu.
Walaupun ustadzah itu terus berjalan ia tetap merayu dengan bernyanyi. Kebetulan suara pemuda itu sangat bagus dan merdu. Sampai-sampai sang ustadzahpun tertarik.
                “astaghfirullah…”, ustadzah itu langsung lebih mempercepat jalannya. Kebetulan hari ini ia tidak dijemput oleh abinya.
                Pemuda itu terus terbayang oleh sang ustadzah. Iapun mencari tahu informasi tentang ustadzah tersebut. Akhirnya ia tahu bahwa sang ustadzah anak pak ustadz Soleh di kampung sebelah. Iapun meminta ibunya untuk melamar ustadzah itu. Karena ayahnya sudah meninggal ibunya meminta tolong kepada adiknya, yaitu seorang ustadz. Namun, adiknya itu tidak tahu seperti apa kemanakannya itu.
                Ketika sampai di rumah gadis itu, abinya senang karena yang datang adalah temannya yang sudah lama tidak bertemu.
                “ada apa saudaraku datang kemari, adakah yang dapat saya bantu?”, kata ustadz soleh.
                “ terima kasih, saya kemari hendak mempererat persaudaraan kita. Kemanakan saya ingin melamar putri Anda.”
                “Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Saya percaya dengan Anda, tetapi semua keputusan ada di tangan anak saya.”
                Ketika ustadzah tersebut disuruh mengantar minuman, pak soleh menanyakan keputusan putrinya itu.
                 “ya abi, kalau itu yang terbaik untuk saya, saya ikhlas”
                Akhirnya kedua belah pihak setuju, setelah seminggu berlalu pernikahanpun digelar.
                Beberapa hari pernikahan telah berlalu. Sang istripun merasa ada yang berbeda dengan suaminya. Suaminya jarang sekali ada di rumah. Ia ingin solat berjamaah dengan suaminya, tetapi ia berbaik sangka kalau suaminya pasti salat di mesjid.
                Pada suatu hari saat suaminya ada di rumah satu harian, perasaannya semakin tidak enak. Kenapa suaminya tidak ada melaksanakan solat subuh. Hingga malam hari tidak ada satupun solat wajib yang dikerjakannya.
                Bagai disambar petir, ustadzah tesebut sangat shock melihat kelakuan suaminya itu. Ia memutuskan untuk pulang untuk mengadukan semuanya pada abinya.
                “abi, kenapa saya bisa seperti ini. Bang baharuddin tidak melaksanakan salat. Apalagi untuk menjadi imam rumah tangga kami.” Sambil menangis ia bercerita.
                “astaghfirullah nak, sabar ya. Ayah minta maaf, kemarin tanpa melihat dulu sebenarnya siapa dia, ayah hanya melihat pamannya saja. Karena pamannya itu sangat baik dan soleh. Tapi nak, ini sudah takdir buat kamu. Pertahankan ya nak pernikahan kalian. Karena Allah membenci perceraian walaupun itu halal. Mintalah padaNya. Perbanyak solat malam kamu nak. Minta pada Allah agar suamimu diberi hidayah olehNya. Karena Allah bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya.”
                Akhirnya iapun merasa tenang mendengar nasihat abinya. Semenjak itu, ia sering solat malam untuk meminta pertolongan dari Allah. Tiap malam sambil menangis ia memanjatkan ampun dan memohon agar Allah member Hidayah kepada Suaminya
***
                Suatu sore, suaminya duduk-duduk  di depan teras. Ustadzah tersebut hari ini memang berencana untuk menasihati suaminya itu. Dengan berdandan dengan sangat cantik dan menyuguhkan teh hangat dan gorengan lezat buatannya, ia duduk di sebelah suaminya itu.
                “terimakasih ya dik, gorengannya sangat enak.”  Pujinya kepada istrinya. “oh iya, abang ingin belajar solat dengan adik, selama ini abang tidak pernah solat karena sudah lupa baca-bacaanya. Semenjak ayah abang meninggal abang sangat shock sehingga abang menjadi sangat jauh dari agama. Abang merasa bersalah karena abang sangat jauh berbeda dengan adik. Adik sangat soleh sementara abang gadul2an. Abang tidak ingin mempermalukan adik. Dan abang juga sadar kalau solat itu wajib.”
                Dengan mata menangis sang istri langsung memeluk suaminya.
                “terimakasih banyak ya Allah, Engkau sebaik-baikNya tempat meminta.” Dalam hatinya
                “kenapa adik menagis? Abang salah ya?”
                “tidak bang, dinda sangat bersyukur abang mau berubah. Dengan senang hati adik akan berusaha mengajari abang kembali.”
                “terimakasih dik, abang sangat sayang dengan kamu.”
                “dinda juga sangat sayang dengan abang karena Allah.”
                Dengan penuh semangat sang ustadzah membimbing suaminya. Setelah belajar macam-macam dan gerakan-gerakan solat, ia membantu suaminya untuk menghapal surat Al-fatihah. Subhanallah, sangat bagus suaranya membacakan surat alfatihah. Dan diapun kini telah hapal.
                Pada sore hari sebelum magrib tanpa sepengetahuan istrinya, ia berkeinginan untuk solat magrib  di mesjid.
                “biar afdol saya pinjam gamis dengan abi saja ah” dengan penuh semangat dia pun  ingin kelihatan sempurna untuk melaksanakan solat pertamanya di mesjid.
                Ketika pak soleh hendak keluar kota, ia langsung menyamparinya.
“abi, bolehkah saya pinjam gamis abi”
                “dengan senang hati nak, mau kemana kamu?”
                “saya mau ke mesjid bi”.             
Tiba-tiba ia melihat sorban, dan ia pun berkenginan untuk meminjamnya. Abipun juga dengan senang hati meminjamkan dan memakaikan ke kepala menantunya itu.
“abi, untuk memperlengkap. Bolehkah saya meminjam tasbih abi”
“iya nak.” Dengan senyum-senyum ia pun memberikan kepada baharuddin.
***
Ketika di mesjid, dengan penampilannya seperti itu, pengurus mesjid sangat terkejut sekaligus kagum melihat ada ulama besar yang datang ke mesjid di kampung itu karena ia tidak pernah melihat orang itu. Namun, pengurus mesjid itu malu karena jamaah solat magrib tidak terlalu banyak. selagi baharuddin solat sunah yang sudah diajarkan istrinya, pengurus mesjid itu langsung mengedor pintu-pintu warga untuk mengajak solat magrib.
“ada ulama besar datang. Kampung kita akan malu kalau mesjid kita tidak ramai” kata-kata itu yang disampaikan kepada warga.
Solat magrib hendak dilaksanakan, baharuddinpun di persilahkan untuk menjadi imam.
“tidak pak, saya tidak pantas menjadi imam.” Jawabnya.
“bapak jangan rendah diri begitu. Menjadi kehormatan kami jika bapak menjadi imam disini.” Sanggah pengurus mesjid yang mengira kalau sang ‘ulama’ sangat tawadhu.
Dengan sedikit keberanian, baharuddinpun menjadi imam solat magrib itu.
“Allahuakbar” suaranya sangat bagus, siapa yang akan mengira kalau dia tidak pandai solat
Surat AlFatihahpun dibacakannya, suaranya sangat bagus. Para makmum sangat menghayati bacaannya. Sampai-sampai ada seorang yang menangis. Namun, suara isakan makmum tersebut membuat konsentrasi baharuddin buyar.
                “maliki…maliki…maliki…”
                “aduh saya jadi lupa” dalam hati baharuddin. Ia pun bingung mau jadi seperti apa. Di mesjid itu bangunannya masih bangunan lama, jadi  di tempat imam terdapat pintu tanpa penutup. Tanpa berfikir panjang lagi iapun langsung lari dari pintu itu. Sambil berlari ia berdoa agar Allah menutupi Aibnya. Salah satu makmum di belakangnya, kebetulan juga baru belajar kalau  kita harus selalu mengikuti gerakan imam sehingga iapuin ikut keluar. Namun, entah kenapa melihat dia keluar semua makmun ikut keluar.
Tidak berapa lama, gempa datang kekampung itu. Gempa tidak terlalu besar tetapi merobohkan mesjid dan beberapa rumah warga.
semua jamaah pada waktu itu menyangka kalau ‘ulama tersebut memiliki firasat yang sangat tajam. Karena mau ada gempa makanya ‘sang ulama’ lari.
Dengan mengucapkan hamdalah iapun menceritakan semua kepada istrinya. istrinyapun menangis. Bukan hanya karena kebesaran Allah, tapi ia khawatir kalau suaminya akan disuruh untuk menjadi imam mesjid lagi.
Dengan mengikhlaskan masa-masa pernikahan yang baru, ustadzah tersebut menyuruh agar suaminya pergi  ke pesantren untuk belajar agama dan menjadi hafidz alquran.
“bang, dinda akan sabar menunggu abang. Sebelum abang menjadi hafidz, tidak boleh pulang ya. insyaAllah Allah akan memberkahi perkawinan kita.”
***
Memang ada sedikit edittan. Karena penulis tidak luput dari kesalahan dan penulis berkeinginan agar cerita lebih penuh hikmah, tapi tidak ada perubahan cerita. Semoga semakin bermanfaat buat yang membaca ya… J

Kamis, 19 April 2012

cerpen Q "Hijrahku KarenaMu"

-->
Di siang yang  cerah dengan semilir angin, aku dan adik-adik yang ku sayang karena Allah mengkaji ilmu-Nya.
Di penghujung halaqoh…
“Alhamdulillah, baik adik2 kakak yang dirahmati Allah, sebelum kita tutup, minggu depan kita tetap ngaji dengan waktu yang samakan?” Tanyaku.
“Iya kak, kami semua insyaAllah kalau tidak ada urusan mendadak bisa hari dan jam seperti hari ini kak,” jawab amiroh dari lingkaran itu.
“Ya sudah, jangan lupa targetan mutabaah yaumiyahnya ditingkatkan ya, apalagi hapalannya, insya Allah dengan usaha kita yang sungguh-sungguh Allah akan mempermudah. Baik adik-adik kita tutup dengan doa penutup majelis”
***
Tahun ajaran ini,  pertama kalinya aku menjadi salah satu pementor adik-adik mahasiswi baru. Alhamdulillah, salah targetku yaitu menjadi akhwat tercapai. InsyaAllah yang ditandai dengan menutup hijab tubuh secara utuh dan memiliki binaan, kumulai langkah ini.
Aku mahasiswi fakultas kesehatan USU. Setiap ajaran baru, Alhamdulillah dengan diberinya kebebasan tidak seperti puluhan tahun yang lalu, fakultasku dan fakultas lainnya di USU melaksanakan mentoring agama islam untuk mahasiswa baru, ada yang dimulai dari semester pertama maupun semester kedua disesuaikan dengan mata kuliah agama maaing Fakultas. Dan kakak senior mulai dari tingkat II sudah bisa menjadi pementor. Para calon pementor harus memenuhi persyaratan dan mengikuti seleksi. Aku sadar di  tingkat II aku belum memenuhi persyaratan. Alhamdulillah di tingkat III ini aku diberi hidayah untuk memenuhi persyaratan yang diajukan.
Perjalanan awal menjadi kakak binaan memang sangat mengesankan. Ada adik yang sangat semangat namun ada pula yang tidak terlalu sungguh-sungguh mengikuti pengajian ini. Hal itu tidak membuat aku surut karena halaqoh yang kumiliki awal-awalnya dulu juga seperti ini bahkan pernah hanya 2 orang  saja. Aku ingin seperti murabbiku dulu, yang selalu semangat dalam menegakkan Kalimatullah.
***
Hari ke hari tak terasa dilalui, hari ini agenda yang tidak bisa ditinggalkan yaitu mengisi halaqoh. Materi hari ini adalah Ma’rifaturrasul. Alhamdulillah adik-adik yang datang 6 orang berarti ada 3 orang yang tidak hadir.
“Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam dari moderator halaqoh hari ini, Ayu.
“Wa’laikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab kami semua.
Setelah itu agenda selanjutnya dan sampai akhirnya diskusi.
“Terima kasih ya kak, atas materi yang kakak sampaikan. Itu membuat saya tergugah dan mudah-mudahan teman yang lainnya. Misya mau tanya kak,  tapi sedikit lari. Kak seperti yang kakak bilang begitu baiknya akhlak Rasulullah, begitu jujurnya beliau, hingga banyak yang tersentuh hatinya untuk hijrah ke jalan Allah. Seperti yang kakak contohkan tadi, misalnya, Mushab bin ‘umair yang rela meninggalkan segala kekayaan bahkan meningkalakan ibu yang dicintai demi ajaran yang dibawa Rasullah yaitu mengesakan Allah. Apakah kita sekarang yang sudah islam masih dituntut untuk berhijrah?” Tanya misya sambil melihat catatan2 yang ditulisnya , adik yang selalu semangat mengikuti mentoring. Pertanyaannya membuatkanku tertegun. Teringat beberapa minggu, bulan bahkan tahun lalu sebelum aku berhijrah mendapat hidayah dari Allah untuk mendalami islam secara utuh.
“Syukron Misya atas pertanyaannya, pertanyaan nggak lari kok. Kakak senang sekali pemikiran Misya sampai sejauh itu. Baiklah adik-adik kakak akan menjawab pertanyaan Misya. Hijrah artinya berpindah. Berpindah maksudnya berpindah ke tempat yang lebih baik. Tujuan diutusnya Rasul adalah untuk mengesakan Allah seningga akan menjadikan manusia menjadi makhluk yang lebih baik. Nah kita sekarang sudah islam, sudah beriman kepada Allah. Tetapi apakah keimanan kita benar-benar terjamin. Memang kita tidak bisa menghitung sejauh mana keimanan kita, tetapi kita bisa lihat bagaimana keyakinan kita terhadap Allah, terhadap takdir dan kehendakNya, apakah kita selalu bergantung padaNya. Serta apakah kita berusaha selalu mengerjakan perintah dan menjauhi laranganNya. Jadi kita diharapkan dapat selalu berhijrah, maksudnya disini adalah menjadi lebih baik karena Allah. Contoh pertama, misalnya kita berhijrah dari yang tidak memakai jilbab kemudian memakai jilbab.  Kapan dulu adik-adik pertama kali pakai jilbab?,” tanyaku pada mereka agar ada respon dari penjabaranku yang cukup panjang.
“kalo retno kapan dik?”
“sejak SMA kelas 2 kak.”
“Alhamdulillah, memang rata-rata wanita baru memiliki kesadaran memakai jilbab sejak SMA, tetapi seharusnya ketika dia sudah baligh atau datang bulan pertama kali sudah diwajibkan menuntup auratnya. Semua itu karena hidayah Allah, karena ada orang yang baru tersadar memaknai kewajiban memakai jilbab ketika sudah berumur 30-an atau lebih. Itu contoh kecil dari hijrahnya kita kea rah yang lebih baik tentunya. Masih banyak contoh-contoh lain mungkin adik-adik merasakannya.”
“Kak, mengenai hal tadi, maaf kak Rini ingin bertanya mengenai hijrah kakak seperti sekarang ini, kakak sudah menutup aurat secara baik menurut Rini yang dikenal sebagai Akhwat gitu, gimana kak ceritanya. Manatau itu bisa menjadi inspirasi kami kak?”
Subhanallah, Ya Allah bantu hamba menjabarkan jawaban Rini.
“Rini, pertanyaannya mencari jawaban yang realistis ya dik?” tanyaku sambil tersenyum padanya dan dia pun jadi menunduk malu.
“Tidak apa-apa dik, kakak senang kok atas pertanyaan Rini. Kakak hijrah, InsyaAllah berusaha memahami dan mengaplikasi islam secara mendalam, sejak semester ini. Sebenarnya kakak sudah mulai punya pengajian seperti ini sejak SMP dan SMA, meskipun terputus-putus. Tetapi hidayah itu belum hadir, kakak masih saja bandal.” Aku tersenyum mengatakan “bandal”.
“Selain memang Karena dulu kebanyakan teman-teman kakak sama seperti kakak sehingga tidak ada yang memotivasi untuk berhijrah, tetapi sekarang sejak pertama kali masuk, Alhamdulillah, kakak bertemu dengan senior-senior yang selalu memotivasi untuk lebih baik. Kemudian kakak juga menemukan teman seperjuangan yang tergerak hatinya untuk berubah menjadi Hamba Allah yang lebih baik. Namun proses ini berlangsung lama.”
***
Hari ini jadwal aku dan mahasiswa baru lainnya menyususun jadwal kuliah semester pertama di  PSI atau Pusat Sistem Informasi. Setelah selesai, aku keluar kemudian sampai digerbang ke arah gelanggang aku bertemu dengan kakak senior yang ingin membagi stiker organisasi sebagai program penyambutan mahasiswa baru kepada junior.
“Assalamualaikum,”  salah satu kakak di kumpulan itu menyapaku dengan penuh senyum.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku
“Tadi dari dalam ya? sudah selesai dik nyusunnya?” tanya kakak itu lagi.
“Alhamdulillah sudah kak.” Jawabku kembali
“Siapa dik namanya? Nama kakak Rini, kakak yang ini Yanti dan yang ini Zanila. Adik dari fakultas apa?” tanya kakak yang lainnya kepadaku juga dengan ramah.
“Nama saya Aqsa kak. Aqsa dari Fakultas Kesehatan.” Jawabku berharap salah satu kakak tersebut ada yang berasal dari fakultas yang sama denganku.
“O, ini kak Zanila dari Fakultas Kesehatan juga,” jawab kak Rini dengan cepat
“Iya kakak dari Fakultas Kesehatan Dik. Nomor Hp Aqsa berapa Dik?” jawab kak Zanila dengan sangat lembut.
“Wah senang sekali kak, kakak pertama kali senior yang Aqsa lihat. Ini Nomor Hp Aqsa kak.” Jawabku sambil menunjukkan nomor Hpku yang ada di  Hpku sendiri. Kemudian kak Zanila langsung memanggil Nomor Hpku.
Alhamdulillah, aku punya senior yang sangat ramah. Aku juga menyimpan nomornya. Hari ini beruntung, selain ketemu dengan kakak senior, urusan di kampus juga sudah selesai.
Beberapa minggu di kampus baruku sudah kulewati. Masa-masa Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) juga sudah dilewati. Alhamdulillah di kampusku tidak ada sistem penindasan terhadap junior. Kegiatan kami pada saat itu seminar di dalam auditorium dan di akhiri dengan inagurasi di Sibolangit.
Hari ini ada keputrian di mushala kampusku. Kak Zanila selalu memberI informasi akademik dan juga informasi kalau ada pengajian atau keputrian. Kak Zanila juga mengenalkan aku dengan kakak yang lainnya. Aku jadi semakin betah disini. Setiap hari Jumat BKM mengadakan keputrian pada jam shalat jumat. Aku sering mengikuti keputrian tersebut karena dulu aku fikir tidak ada ruginya ikut keputrian malah bisa menambah pengetahuanku. Ditambah lagi acara keputrian sering ada games dan doorprice. Memang jiwa anak-anakku masih ada. Namun, benar juga, untuk menghilangkan kebosanan perlu diadakan hal-hal seperti itu agar menarik.
Hari ini temanya tentang ukhuwah. Jadi yang aku tangkap pada saat itu adalah selalu mengucapkan salam terhadap saudara seiman ketika bertemu maupun saat mau berpisah, bukan menyebut hallo atau yang lainnya. Karena dengan mengucapkan salam berarti kita telah mendoakan kebaikan buatnya.
Setelah keputrian, aku solat dzuhur. Pukul setengah dua siang aku ada jadwal kuliah. Alhamdulillah tidak telat karena tadi kusempatkan untuk makan siang. Ketika di kelas aku memilih duduk dekat dengan tiga orang teman baru. Sebelum dosen masuk ku sempatkan untuk berkenalan dengan mereka. Aku belum terlalu mengenal mereka karena teman-teman yang kukenal pada saat PMB berlainan kelas denganku.
“Assalamualaikum,” sapaku terhadap mereka yang semuanya memakai jilbab, sekalian mengaplikasikan ilmu yang baru kudapat.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.
“Disini nggak ada orangnyakan?” tanyaku basa-basi.
“Nggak ada. Nama kamu siapa?” tanya salah satu dari mereka yang kelihatan paling ramah.
“Oh iya kenalin namaku Aqsa,” kujawab sambil menyalami mereka satu persatu.
Mereka memperkenalkan dirinya masing-masing. Yang paling ramah tadi benama Riri, dan dua lainnya bernama Yesi dan Novi. Setelah  itu kami banyak cerita tentang diri masing-masing.
Setelah kuliah sudah selesai aku berencana pulang dengan Riri, kebetulan kos kami searah.
“Ri, kita pulang bareng ya?”
“Lho, kan lebih dekat dari depan Sa? Bisa naik angkot lagi.” Jawabnya
“iya Ri. Memang biasanya Aqsa dari depan. Tapi mau sekalian ketemu teman di Sumber.”
“Ok. Yuk kita langsung pulang,”
Kami jalan bersama menuju Sumber. Sumber adalah salah satu pintu masuk selain pintu utama (pintu 1, 2, 3, dan 4) dan pintu dari kampung susuk. Sesampainya di sumber aku meminta Riri menemani aku bertemu dengan dia.
“Uda mau berangkat Dra?” tanya ku pada dia.
“Ya ini sebentar lagi Sa.” Jawabnya
“Oh iya, Ri kenalkan ini Hendra, Hendra kenalkan ini Riri teman sekelas Aqsa. Kebetulan kami satu arah jadi pulang bareng.”
“Hendra fakultas apa?” tanya Riri
“Aku fakultas Fisip.” Jawab Hendra dengan senyum.
“Jadinya Hendra inagurasi kemana? Jadi ke Perapat? Berapa hari Dra?” tanyaku perhatian kepanya.
“Iya Sa, kami jadi ke perapat. Kata senior tiga hari. Mudah-mudahan aja acara disana mengasyikkan.”
“Oh, ya uda. Hendra baik-baik ya disana.”
Setelah itu kami berpisah dengan Hendra. Kemudian kami melanjutkan jalan pulang.
“Kalau boleh tahu itu siapa Ri? Pacar kamu ya?” tanya Riri penasaran.
“Iya Ri, dia pacar Aqsa sejak SMA.” Jawabku malu-malu
“Oh, pantesan kalian agak malu-malu. Tapi tadi kok banyak diamnya.”
“Mungkin karena uda sering jumpa dulu ya waktu SMA.” Jawabku sambil ketawa, “tapi sih Aqsa dan Hendra memang gak terlalu banyak bicara apalagi Aqsa.”
“Oh, uda lama ya pacarannya? Kayaknya asyik tuch ceritanya.”
“Iya sejak kelas I semester 2 Ri. Beneran nih mau diceritain?”
“Mau dong.”
“Ya gak panjang-panjang banget sih ceritanya. Kami pacaran dari kelas I semester 2. Dan kelas II kami satu kelas. Semenjak sekelas kami jadi dekat. Bahkan waktu itu, sejak semester 1 sampai kelas III Aqsa dan Hendra selalu jadi juara 1 dan 2.”
“Siapa yang juara 1 Sa?”
“Aqsa dong.” Jawabku sambil tertawa dan sedikit bangga. “sehingga seantero sekolah tahu kalau kami pacaran. Tapi kami sering dicandai teman kalau lagi duduk berdekatan kami banyak diamnya. ‘gak ada pulsa ya Dra?’ Kata mereka sambil tertawa.”
“Oh gitu ya ceritnya Sa. Ya mudah-mudahan deh yang terbaik buat kalian.”
“Iya, makasi ya Ri. Kita gara-gara cerita jadi berhenti dipinggir jalan ya?” jawabku sambil senyum. “Kos kamu dimana Ri, katanya depan Sumber?”
“Itu, gang di seberang sana. Riri tinggal nyebrang aja. Kamu Sa?”
“Aqsa jalan lagi kesana. Ya uda Ri, terima kasih ya sudah menemani Aqsa.”
“Assalamualaikum,” sambil malu-malu kami megucapkan kata salam bersama. Ya aku tahu Riri tadi juga ikut keputrian di Musala tadi. Kami sudah mulai mengaplikasi ilmu yang kami peroleh bersama.
Dengan serempak pula kami menjawab salam, “waalaikumsalam.”
Itulah kisah pertama aku dengan sahabatku. Memang ada getar-getar itu, antara aku dan Sahabatku. Padahal baru kenal tetapi karena keimanan yang akan menyatukan kami, kami seperti sudah kenal sejak lama. Dia juga pertama orang yang tahu tentang Hendra, sehingga aku selalu cerita dan berbagi tentangnya ke Riri.
Berbulan-bulan aku sudah kuliah. Aku juga mengikuti dan Riri UKMI di fakultas kami dan juga bersama-sama mengikuti LDK USU sejak semester pertama. Kakak senior juga selalu memberi ilmunya kepada kami. Terlebih kak Zanila. Dia benar-benar sangat lembut. Walau pendiam, tetapi diamnya memberi kharisma buatnya. Dalam diamnya dia banyak memikirkan keadaan orang lain.
Pemahamanku tentang islampun  kian bertambah. Aku mulai berubah perlahan demi perlahan. Begitu pula dengan Riri. Banyak kisah yang kami lewati begitu mengesankan. Walaupun dia tidak pacaran tetapi seakan-akan dia menunggu aku untuk berhijrah. Aku juga sadar bahwa pacaran itu tidak dibenarkan dalam islam. Dalil tentang hal ini banyak sekali diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).
Berkaitan dengan ayat ini seorang ahli tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya,
Larangan mendekati suatu perbuatan nilainya lebih daripada semata-mata larangan melakukan suatu perbuatan karena larangan mendekati suatu perbuatan mencakup larangan seluruh hal yang dapat menjadi pembuka/jalan dan dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang”.
Kemudian Beliau –rahimahullah- menambahkan sebuah kaidah yang penting dalam hal ini,
Barangsiapa yang mendekati suatu perbuatan yang terlarang maka dikhawatirkan dia terjatuh pada suatu yang dilarang”.
Dahulu karena alas an pacaran inilah yang membuat aku tidak lulus syarat menjadi pementor di fakultasku. Alhamdulillah hidayah itu telah datang. Aku memantapkan niatku untuk memilih jalan dakwah ini. Di awal semester V kumantapkan hatiku untuk tidak melanjutkan hubungan yang belum saatnya ini. Pada saat itu aku ingin memilih untuk menikah dengannya. Karena aku pernah mendengar nasihat ‘kalau memang sanggup menikahlah, kalau tidak putuskan’. Ketika aku utarakan isi hatiku, namun dia belum sanggup untuk sekarang. Dan ketika ku bilang untuk mengakhiri hubungan ini, Alhamdulillah dia mengerti. Aku sadar pada awalnya memang terasa berat. Setiap mengingat kenangan dengannya  aku menangis. Ketika aku pulang ke kampung selalu ada saja yang menanyakan tentang nya. Tetapi betapa bodohnya aku. Ada Allah disampingku. Ada sahabat didekatku. Ada Allah yang jika aku mencintainya cintaku takkan bertepuk sebelah tangan. Berbeda ketika aku mencintainya, banyak kecemburuanku kepadanya. Bahkan aku selalu menjadi beban pikirannya karena aku terlalu cemburu, banyak memakan waktunya karena aku sangat sulit untuk mengutarakan apa yang aku rasa. Anjuran Allah itu memang benar,  betapapun kami dekatnya, yang hanya kebanyakan menimbun dosa dan membuat hati semakin keruh, kalau kami tidak berjodoh, maka Siapa yang bisa menghalangi kehendakNya, kami tidak akan berjodoh.
Ada Sahabatku yang kian hari seperti Bidadari Surga, selalu menyejukkan hatiku. Kamipun hanyut dalam DekapanNya. Begitu pula dengan amanah-amanah dakwah. Itu semua menghilangkan lara di hatiku. Karena sibukanlah diri kita dengan hal yang bermanfaat karena Allah, kalau tidak pasti ada saja yang akan kita sibukkan namun itu sia-sia. Itu pesan Murobbiku dulu.
Alhamdulillah. Kampus ini menjadi pesantren bagiku. Senior bagaikan ustadz dan ustadzahku, ukhuwah bagai pelajaran buatku, dan amanah bagai tugas yang membuatku semakin terlatih. Aku berharap adik-adikku ini juga menjadi jundi-jundiMu ya Rabb… Amiin ya rabbal’alamiin…
***
Tak terasa Aku sudah terlalu panjang menceritakan kisah yang semoga menjadi ibroh buat adik-adik.
“Maaf Dik, kepanjangan ya cerita kakak?”
“Subhanallah ya kak, Juri jadi terharu mendengar cerita kakak.”
“Iya Dik, ketika kakak berusaha untuk berubah, memang terasa berat. Tapi semua itu bisa kakak lewati ketika semuanya kakak serahkan sama Allah. Dan memang perubahan itu lebih baik sedikit demi sedikit. Laa yukallifullahu nafsan illawus’ahaa, Allah tidak membebani suatu kaum melainkan sesuai kesanggupannya.”
***
***

Ya Allah jikalau memang Kau takdirkan dia sebagai insan terbaik dariMu…
Jauhkan kami sejauh-jauhnya…
agar kelak saat pertemuan nanti, benih rindu ini dapat terlerai dan tumbuh menjadi cinta suci yang Kau ridhoi…
Tapi….
Jikalau ternyata dia bukan yang Kau pilihkan buatku…
Dekatkan kami…
Dekatkan sedekat-dekatnya pada cinta dan kasihMu…
Agar terhijab hati ini dari zina yang membuatMu murka…
Kumohon…
Sampaikan maafku pada seseorang yang Kau pilihkan untuknya…
Maaf…
Karena sebelum kehadiranya…
Aku telah lancang mengisi hati kekasihnya…